Mahasiswa Sastra Inggris UIN Sunan Kalijaga Dalami Dunia Terjemah dan Musikalisasi Puisi Melalui Seminar Pelatihan Pengembangan Bakat

Yogyakarta, 9 Mei 2026 - Program Studi Sastra Inggris Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan “Pelatihan Pengembangan Bakat Mahasiswa Program Studi Sastra Inggris” di Ruang Teatrikal Pusat Pengembangan Bahasa. Kegiatan ini menghadirkan dua pemateri utama, yaitu Hasta Indriyana yang merupakan seorang praktisi sastra, jurnalis, dan editor Ruang.ID dalam sesi Pelatihan Kreasi Sastra, serta Laiyinatus Shifa Zuhrotun Naqiyah, S.S., M.Pd. atau yang akrab disapa Miss Nana dalam sesi Pelatihan Terjemah.

Kegiatan dihadiri oleh mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2024 dan 2025 serta sejumlah dosen Program Studi Sastra Inggris, di antaranya Ketua Program Studi Sastra Inggris Dr. Ulyati Retno Sari, M.Hum., Wakil Ketua Program Studi Sastra Inggris Dwi Margo Yuwono, M.Hum., serta dosen sastra Inggris Aninda Aji Siwi, S.Pd., M.Pd.

Acara dibuka dengan sambutan dari Kaprodi Sastra Inggris, Dr. Ulyati Retno Sari, M.Hum., yang menekankan pentingnya pengembangan kreativitas mahasiswa dalam bidang sastra dan bahasa sebagai bekal akademik maupun profesional serta membuka jalannya rangkaian acara pada hari itu.

Sesi pertama diisi oleh Hasta Indriyana dalam Pelatihan Kreasi Sastra yang membahas musikalisasi puisi sebagai bentuk seni pertunjukan dan alih wahana. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa musikalisasi puisi bukan sekadar menambahkan musik ke dalam puisi, melainkan proses kreatif untuk menghidupkan makna puisi melalui unsur bunyi, nada, dan instrumen musik. Peserta juga diperkenalkan pada konsep alih wahana, yaitu proses pengalihan karya ke bentuk kreatif lain, seperti puisi menjadi musik atau novel menjadi film.

Selain pemaparan materi, beliau turut menampilkan contoh musikalisasi puisi secara langsung dengan iringan gitar. Demonstrasi tersebut menunjukkan bagaimana instrumen dan nada dapat membangun suasana sekaligus memperkuat makna puisi yang dibawakan.

Sesi berikutnya dilanjutkan dengan Pelatihan Terjemah yang disampaikan oleh Miss Nana. Selain aktif sebagai pengajar bahasa, ia juga merupakan owner PT Elina Kreatif Mandiri yang bergerak dalam bidang pengajaran dan penerjemahan.

Dalam materinya, Miss Nana menjelaskan bahwa penerjemahan bukan hanya proses mengganti kata dari satu bahasa ke bahasa lain, tetapi juga memahami makna, budaya, dan konteks audiens. Ia menekankan pentingnya pendekatan “sense-for-sense” dibandingkan penerjemahan literal agar pesan dapat tersampaikan secara lebih alami. Miss Nana juga menyoroti tantangan perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan kemampuan dan kreativitas agar tetap relevan di dunia kerja.

Selain membahas teknik penerjemahan, Miss Nana turut membagikan pengalaman mengajar serta tips membangun kelas yang interaktif dan menyenangkan. Ia juga berpesan agar mahasiswa aktif mencari pengalaman di luar perkuliahan sebagai bekal menghadapi dunia profesional di masa depan.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif antara peserta dan para pemateri. Salwa, mahasiswa angkatan 2024, menanyakan kemungkinan menemukan nada terlebih dahulu sebelum menentukan puisi dalam proses musikalisasi puisi. Menjawab pertanyaan tersebut, Hasta Indriyana menjelaskan bahwa tidak ada aturan baku dalam musikalisasi puisi. Menentukan nada terlebih dahulu sebelum teks puisi sangat dimungkinkan dan memiliki keunikan tersendiri, selama tetap selaras dengan makna yang ingin disampaikan.

Peserta lainnya turut menunjukkan antusiasme dalam sesi tanya jawab dengan mengajukan pertanyaan mengenai penggunaan genre musik modern, seperti rock and roll maupun musik viral khas Gen Z, dalam musikalisasi puisi. Menanggapi hal tersebut, Hasta Indriyana menjelaskan bahwa musikalisasi puisi terbuka terhadap berbagai genre musik selama esensi dan pesan puisi tetap terjaga.

Pada sesi diskusi yang sama, peserta juga mengajukan pertanyaan kepada Miss Nana mengenai metode menghadapi siswa yang kurang fokus dalam pembelajaran berbasis elektronik. Menanggapi hal tersebut, Miss Nana menjelaskan bahwa media digital tetap dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran selama disertai batasan dan aturan yang jelas agar siswa tetap memahami tanggung jawab selama belajar.

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama antara peserta, pemateri, dan dosen yang hadir. Secara keseluruhan, kegiatan berlangsung lancar dan mendapat respons positif dari peserta. Salah satu peserta, Nurhalima, mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2024, mengungkapkan bahwa seminar tersebut memberikan banyak wawasan baru mengenai musikalisasi puisi, penerjemahan, serta peluang karir bagi mahasiswa Sastra Inggris di berbagai bidang.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan kreativitas dalam bidang sastra sekaligus memperluas wawasan mengenai dunia penerjemahan dan pengajaran bahasa di era modern (DNI/SNJ)