Menavigasi Era AI, Sastra Inggris UIN Sunan Kalijaga Perkuat Kompetensi Riset dan Publikasi Global
Mr. David Perrodin menyampaikan materi pada kuliah dosen tamu
YOGYAKARTA — Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan kuliah dosen tamu bertajuk “English Studies in the Age of AI: From Academic Foundations to Research and Global Scholarship” pada Senin–Selasa, 19–20 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Teatrikal Lantai 1 Pusat Pengembangan Bahasa UIN Sunan Kalijaga ini menghadirkan Dr. David D. Perrodin dari Mahidol University, Thailand, untuk membahas penguatan fondasi akademik, literasi kecerdasan buatan (AI), metodologi penelitian, dan publikasi ilmiah di era digital.
Kegiatan dipandu oleh Safrina Mauladi Hanifah sebagai pembawa acara dan Sofi Mayla Firdaus sebagai moderator. Pada hari pertama, acara dibuka dengan penampilan Tari Sirih Kuning, dilanjutkan sambutan Ketua Program Studi Sastra Inggris, Dr. Ulyati Retno Sari, S.S., M.Hum., sertaWakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, Dr. Nurul Hak, S.Ag., M.Hum., yang hadir mewakili pimpinan fakultas.Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut dengan pemaparan materi dan diskusi interaktif yang dirancang untuk memperkuat kemampuan akademik mahasiswa dalam menghadapi perkembangan teknologi dan dinamika keilmuan global.
Pada hari pertama, Senin (19/10/2026), mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2026 mengikuti sesi yang berfokus pada fondasi akademik dan literasi AI. Dr. Perrodin menekankan bahwa bahasa Inggris tidak semata-mata dipelajari sebagai mata pelajaran, tetapi juga sebagai alat komunikasi yang membuka akses terhadap pengetahuan, kolaborasi, dan jejaring akademik internasional. Kemampuan membaca kritis (critical reading) menjadi salah satu kompetensi penting yang perlu dikembangkan mahasiswa agar mampu memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara tepat.
Dalam sesi tersebut, peserta juga diajak mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui pendekatan Claim–Evidence–Question, yakni mengidentifikasi klaim, memeriksa bukti yang mendukungnya, dan merumuskan pertanyaan lanjutan. Pendekatan ini membantu mahasiswa untuk tidak menerima informasi begitu saja, melainkan menilai dasar argumentasi dan mempertimbangkan keandalan sumber, termasuk ketika memanfaatkan teknologi AI dalam kegiatan akademik.
Sementara itu, sesi hari kedua, Selasa (20/10/2026), diikuti mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2024 dan 2025 dengan fokus pada penulisan akademik, etika penelitian, serta proses publikasi ilmiah. Dr. Perrodin menegaskan bahwa penelitian yang berkualitas berawal dari kemampuan mengajukan pertanyaan yang bermakna (learning how to ask better questions). Pertanyaan penelitian yang dirumuskan secara tepat menjadi landasan untuk menelusuri literatur, menentukan metode, mengumpulkan dan menganalisis data, serta menyusun argumen berdasarkan bukti.
Ia juga menjelaskan pentingnya integritas akademik dalam setiap tahap penelitian. Pemanfaatan AI dapat membantu proses belajar dan riset, tetapi penggunaannya perlu disertai sikap kritis, transparansi, dan tanggung jawab. Selain itu, persetujuan etik (ethics approval) harus diperoleh sebelum penelitian dimulai apabila penelitian tersebut mensyaratkannya. Aspek ini menjadi perhatian penting, khususnya bagi mahasiswa yang mulai merancang penelitian dengan melibatkan partisipan atau data yang memerlukan pertimbangan etis.
Pembahasan kemudian berlanjut pada proses penulisan dan publikasi di jurnal ilmiah. Mahasiswa diperkenalkan pada tahapan pemilihan jurnal yang sesuai, penyusunan manuskrip dengan gaya penulisan akademik (scholarly voice), proses penelaahan sejawat (peer review), hingga revisi berdasarkan masukan penelaah. Dr. Perrodin menekankan bahwa publikasi bukanlah akhir dari perjalanan penelitian, melainkan bagian dari proses pengembangan pengetahuan, penyempurnaan gagasan, dan perluasan kolaborasi akademik.
Untuk memperkuat pemahaman peserta, rangkaian kegiatan hari kedua juga mencakup Research-to-Publication Clinic. Dalam sesi ini, mahasiswa berkesempatan mempraktikkan pengembangan gagasan penelitian menjadi abstrak singkat (mini abstract). Kegiatan tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk menerapkan materi yang telah dipelajari sekaligus memahami bagaimana ide awal dapat dikembangkan menjadi rancangan penelitian yang lebih terarah.
Selain materi akademik, interaksi selama kegiatan turut memberikan pengalaman belajar yang lebih dekat bagi mahasiswa. Penyampaian materi yang komunikatif dan disertai diskusi membuka kesempatan bagi peserta untuk mengajukan pertanyaan serta memperluas pemahaman mengenai tantangan dan peluang studi bahasa Inggris di era AI. Pada hari kedua, rangkaian acara ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan dan sesi foto bersama.
Melalui kuliah dosen tamu ini, Program Studi Sastra Inggris UIN Sunan Kalijaga berupaya memperkuat kesiapan mahasiswa dalam menghadapi perkembangan teknologi sekaligus mempertahankan prinsip berpikir kritis, etika, dan integritas akademik. Perpaduan antara penguasaan bahasa, literasi AI, kemampuan penelitian, dan pemahaman proses publikasi diharapkan dapat mendukung mahasiswa untuk berpartisipasi dalam komunitas akademik internasional serta menghasilkan penelitian yang relevan dan bertanggung jawab. (MF/AR)