Mahasiswa Sastra Inggris Raih Posisi Kedua dalam Lomba Puisi Nasional di English Week XXX

Seorang mahasiswa Sastra Inggris dari Prodi Sastra Inggris telah meraih pencapaian yang membanggakan. Haikal Alex Reza, mahasiswa aktif prodi tersebut, berhasil meraih posisi runner-up dalam Lomba Puisi Kategori Nasional, yang diselenggarakan sebagai bagian dari English Week XXX. Acara ini diselenggarakan oleh Association of English Literature Students dan English Language Education Association, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya.

Prestasi Haikal menyoroti bakat beragam yang dimiliki mahasiswa Sastra Inggris, membuktikan bahwa keunggulan mereka tidak hanya terbatas pada ranah akademik, tetapi juga meluas ke dalam ekspresi sastra yang kreatif dan sadar sosial. Kompetisi ini berpusat pada tema "Empowering Digital Skills for a Brighter Tomorrow", yang menantang peserta untuk mengeksplorasi peran literasi digital dalam masyarakat kontemporer.

Ketertarikan Haikal pada puisi sebagai sarana refleksi pribadi awalnya mendorongnya menulis untuk dirinya sendiri, tanpa rencana untuk mempublikasikannya atau berkompetisi. Namun, keinginan untuk menguji resonansi karyanya dengan khalayak yang lebih luas menginspirasinya untuk berpartisipasi dalam kontes nasional ini. "Ini adalah tantangan pribadi—sebuah cara untuk berkembang," ungkapnya.

Karyanya yang berhasil menang, berjudul "The Pixel Bridge", adalah puisi berbentuk free verse yang menggunakan metafora "jembatan" untuk menghubungkan dua realitas yang kontras: dunia modern yang jenuh teknologi dan kehidupan mereka yang terisolasi akibat kesenjangan digital. Meskipun puisi ini diawali dengan gambaran keterasingan yang dialami oleh komunitas yang tertinggal secara teknologi, puisi ini bergerak menuju visi optimis yang memandang keterampilan digital sebagai alat pemberdayaan, peluang, dan inklusi sosial.

Haikal menggali inspirasi dari kontras yang tajam dalam akses digital antara wilayah perkotaan dan terpencil. Ia melakukan riset informal dan berkonsultasi dengan rekan-rekan yang berlatar belakang teknologi untuk memastikan penggunaan terminologi digitalnya tetap akurat dan efektif secara puitis.

Kemenangan ini telah memperkuat kepercayaan diri Haikal untuk mempublikasikan karyanya dan berpartisipasi dalam kompetisi sastra di masa depan. "Mahasiswa sastra tidak hanya harus menganalisis teks—kita juga harus menciptakannya," ujarnya. Ia berharap keberhasilannya dapat mendorong sesama mahasiswa untuk menulis, membagikan karya mereka, dan terlibat dengan isu-isu sosial melalui kekuatan puisi.