Rindoe Dendam di Tanah Boemi Poetra: Adaptasi Lokal dari Karya William Shakespeare

Yogyakarta - Panggung seni kembali bergema melalui pementasan teater Pandora berjudul Rindoe Dendam di Tanah Boemi Poetra. Proses panjang produksi ini dimulai sejak akhir tahun 2024 melalui kegiatan penggalangan dana, pencarian sponsor, serta pembentukan kelompok-kelompok kecil untuk mendukung kelancaran pementasan. Hasil kerja keras tersebut terwujud dalam sebuah pertunjukan teater yang sukses digelar pada Sabtu, 30 Agustus 2025, bertempat di Gedung Societeit Militaire Budaya Yogyakarta.

Drama ini merupakan adaptasi dari karya William Shakespeare, “The Merchant of Venice”, yang dikemas dalam konteks modern dan lokal, yakni berlatar Jakarta pada masa Batavia. Naskah ditulis oleh Harist sebagai scriptwriter, dengan bahasa yang kuat dan alur emosional yang menyentuh. Sebanyak 103 orang turut terlibat dalam produksi ini, menciptakan sebuah karya kolaboratif yang memukau.

Pementasan ini menghadirkan kisah kehidupan sosial antara suku Jawa dan suku Tionghoa, terinspirasi dari tema diskriminasi dalam karya Shakespeare, tentang bagaimana orang Kristen mendiskriminasi orang Yahudi pada tahun 1912. Cerita dikembangkan menjadi kisah lokal yang menggambarkan persahabatan, pengorbanan, dan konflik sosial, memberikan pengalaman mendalam bagi penonton.

Pementasan dibuka dengan kisah Seomanto, seorang pedagang Jawa yang meminjam uang kepada Wang Cheng Lock, seorang keturunan Tionghoa yang juga merupakan musuhnya. Perjanjian antara keduanya sangat keras: jika Seomanto gagal membayar utang tepat waktu, ia harus menyerahkan satu kilogram daging tubuhnya sebagai gantinya. Konflik pun mulai mengalir.

Ketegangan memuncak ketika dagangan Seomanto dicuri sehingga ia tidak dapat membayar utangnya. Dalam sidang, hakim awalnya memutuskan mendukung tuntutan Wang Cheng Lock. Namun, keadaan berubah ketika seorang penasihat hukum laki-laki melakukan interupsi. Terungkap bahwa “hakim” yang membela Seomanto sebenarnya adalah seorang perempuan yang menyamar, yang berusaha menyelamatkan sahabat kekasihnya, Baskoro, dari hukuman yang kejam.

Kisah ini menyoroti perjuangan seorang pedagang yang rela mempertaruhkan nyawa demi sahabatnya, serta menggambarkan dendam dan luka masa lalu yang menjadi dasar konflik. Pementasan ini tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai persahabatan, pengorbanan, dan interaksi sosial yang mendalam.

Melalui pertunjukan ini, Teater Pandora berhasil menyajikan seni pertunjukan yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga mengajak penonton merenungkan nilai kemanusiaan dan sejarah sosial budaya Indonesia. (NH/DPF/HFS)