Mimpi, Mati, dan Tirani: Bukti Panggung Seni Tak Akan Pernah Sunyi
Pementasan drama oleh Teater Pandora 2026 di Taman Budaya Yogyakarta
Taman Budaya Yogyakarta kembali menjadi saksi bisu lahirnya sebuah pertunjukan teater yang kuat dan memikat. Pada Sabtu, 29 Agustus 2026, mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2024 yang tergabung dalam Teater Pandora sukses menggelar pementasan ke-33 mereka yang bertajuk Mimpi, Mati, dan Tirani. Rangkaian acara pembukaan pertunjukan ini terasa makin istimewa dengan kehadiran tiga pimpinan penting kampus, yaitu Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Noorhaidi Hasan, S.Ag., M.A., M.Phil., Ph.D.; Dekan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya (FADIB), Prof. Dr. Nurdin, S.Ag., S.S., M.A.; serta Ketua Program Studi Sastra Inggris, Dr. Ulyati Retno Sari, S.S., M.Hum.
Dalam sesi pembukaan, ketiga pimpinan tersebut secara bergantian menyampaikan kata sambutan dan apresiasi yang hangat bagi seluruh tim produksi. Mereka memuji semangat, kreativitas, serta dedikasi para mahasiswa yang berhasil menggarap pertunjukan berskala besar ini. Kehadiran dan sambutan apresiatif dari jajaran pimpinan kampus menjadi dorongan moral yang luar biasa bagi pementasan yang telah melewati proses latihan dan persiapan matang selama 10 bulan penuh.
Mengadaptasi karya alegoris legendaris Animal Farm milik George Orwell, naskah ini dikemas dengan pendekatan dramatik yang kuat. Babak awal dibuka oleh suasana emosional ketika Pak Tua Toto, seekor babi sepuh, menyampaikan narasi dari mimpinya. Di hadapan Romo dan Peggi yang sesama babi, serta Tigor, seekor kuda yang setia, Pak Tua Toto membagikan sebuah mimpi besar: fajar kebebasan bagi para hewan ternak dari cengkeraman manusia yang jahat, kejam, dan serakah. Tak lama setelah mewariskan gelora harapan dan semangat perlawanan tersebut kepada generasi penerusnya, Pak Tua Toto mengembuskan napas terakhirnya.
Meninggalnya sang sesepuh menjadi pemantik ideal bagi Romo, karakter babi yang sejak awal menyimpan ambisi besar dan haus akan kendali. Bersama kelompoknya, Romo menyusun strategi untuk menggulingkan penguasa peternakan, Pak Jaka. Puncak babak pemberontakan disajikan dengan ketegangan intensif yang memuncak. Panggung berhasil menghidupkan suasana chaos lewat permainan lighting dan tata visual yang apik. Suasana terus mencekam tatkala nyanyian anak-anak "Cicak-Cicak di Dinding" dikonstruksi ulang menjadi latar nyanyian yang mengerikan, sukses membuat bulu kuduk penonton merinding di tengah pembantaian.
Namun, tragedi sesungguhnya baru dimulai setelah pemberontakan berdarah itu usai. Usai membunuh Pak Jaka secara sadis, Romo mulai menyingkap topeng aslinya. Wajah kebebasan yang digadang-gadang berubah menjadi bentuk penindasan baru. Romo yang makin bengis mengukuhkan kekuasaannya dengan bantuan Mega, seekor babi yang sangat cerdas namun licik. Lewat manipulasi retorikanya yang lihai, Mega berhasil menundukkan seluruh penghuni peternakan agar tunduk patuh pada Romo.
Secara keseluruhan, pementasan berdurasi dua jam ini berhasil mengikat perhatian penonton dengan intensif dari awal hingga tirai ditutup. Pembangunan latar tempat serta detail properti yang digarap secara impresif mampu menghidupkan atmosfer peternakan secara imersif dan meyakinkan. Melalui Mimpi, Mati, dan Tirani, Teater Pandora tidak sekadar menghadirkan tontonan estetis yang menghibur, tetapi juga berhasil menyampaikan refleksi sosial-politik yang tajam: bahwa gerakan perlawanan yang mengatasnamakan kebebasan, jika ditunggangi oleh ambisi personal dan ketakutan akan kehilangan kendali, pada akhirnya hanya akan melahirkan tirani baru yang jauh lebih mengerikan. (MF)